Kamis, 02 Desember 2010

Panca Indra (Otak)

Pada hakekatnya mata tidak memahami sesuatu yang dilihatnya.
Telinga tidak mengerti apa yang didengarnya.Hidung dan lidah tidak bisa membedakan busuk dengan wangi atau pahit dengan manis, sedangkan kulit tak mampu mengetahui rasa sakit dengan rasa enak.Meskipun organ-organ pancaindera yang disebutkan itu normal, namun apabila otak sebagai pengelola merasa da
n memeriksa sedang tidak berfungsi ataupun rusak, maka otak tak akan mampu memahami sesuatu yang dipandang, didengar, diraba tersebut (pemeriksaan tidak diturunkan dari otak).Memahami-mengenali penglihatan, merasakan perabaan, penciuman, pendengaran dilaksanakan oleh otak.Di dalam seni pertunjukan, kita sering disuguhi keajaiban orang yang mampu membaca, berjalan dengan mata tertutup.
Kesan melihat kilatan petir dapat dibuat tanpa melibatkan mata dengan cara mengulum ujung dua batang logam.Kedua ujung logam zinc dan perak di dalam rongga mulut dipisahkan. Ketika ujung logam di luar mulut dipertemukan, maka di dalam mulut terjadi loncatan electron dan hal ini akan dipahami oleh otak sebagai kilatan petir.Demikian pula orang yang mengalami demam panas pada penderita typhus, malaria sering melihat makhluk-makhluk atau bayangan sesuatu karena otaknya terganggu.Hal ini disebut sebagai halusinasi.Masing-masing alat pancaindera memiliki kemampuan merasa dan memeriksa yang sangat terbatas pada saat menerima getaran gelombang dari benda di sekitarnya.Seperti pesawat radio yang memiliki keterbatasan menangkap gelombang dari stasiun pemancar, maka demikian pulalah kemampuan mata, telinga, kulit, lidah, hidung ketika melihat, mendengar, meraba objek di luar tubuh.Mata tidak bisa menerima sinar rontgen dan juga tak mampu memeriksa (membedakan satu-persatu) jenis warna jumlahnya lebih dari 16 juta macam.

Telinga hanya mampu menerima gelombang bunyi diantara 30 sampai dengan 20.000 Herzt. Pada kulit berkumpul ujung-ujung syaraf peraba-perasa sakit, panas, geli. Ujung-ujung syaraf yang bentuknya runcing pada kulit apabila dirangsang akan menimbulkan rasa sakit.Demikian pula pada kulit ada titik-titik panas, dingin.Untuk rasa geli-enak ujung syarafnya bundar dan lebih besar, terletak lebih ke dalam. Syaraf-syaraf ini menerima geli-enak ketika mengecap makanan, meraba, syahwat, mencium (rasa kekasih- kekeluargaan).
Pada bagian-bagian tertentu atau organ dari tubuh, syaraf ini lebih banyak jumlahnya sehingga bagian tersebut sangat sensitif.Selaput lendir pada hidung berhubungan dengan ujung syaraf penghidu. Bau yang masuk ke dalam rongga hidung berujud gas yang dapat mengadakan reaksi kimia dengan selaput lendir di hidung.Semua rangsangan yang telah diterima pancaindera ini, dapat saja disalahtafsirkan oleh otak yang tidak beres, sakit ataupun salah memberi input pada saat menerima nilai-nilai/ norma sebelumnya.Perkembangan pancaindera makhluk, mengikuti proses evolusi kemampuan merasa dan memeriksa dari masing-masing makhluk pula.
Binatang yang tidak bertulang belakang seperti cacing dan serangga tidak mempunyai benak ataupun otakAktivitas pancaindera ini dikoordinasi oleh benak. yang mengkoordinasikan syaraf-syaraf perasanya.Untuk mempertahankan diri dari perubahan yang terjadi di lingkungannya, cacing memiliki syaraf perasa yang tersebar dipermukaan tubuh. Serangga memiliki sungut antene yang dapat mengetahui lingkungannya. Meskipun memiliki mata, tapi mata tersebut tak mampu melihat dan hal ini disebut sebagai mata facet.Pada binatang yang lebih tinggi tingkatannya yaitu binatang menyusui, sudah memiliki pancaindera yang lengkap.
Benak binatang–binatang tersebut belum mampu menilai-menghitung dengan angka-angka sesuatu yang dilihat, didengar, dirabanya.Binatang juga tidak memiliki nilai-nilai perasaan, sekurang-kurangnya itulah yang dapat dilihat oleh manusia. Meskipun binatang memiliki sifat setia, marah, senang tetapi hal itu bukanlah rasa setia, rasa marah, rasa senang, karena binatang tak pernah mengekspresikannya sambil memegang dadanya.
Adapun tingkah binatang ketika merah, senang hanyalah gerakan terpola yang semacam saja, seperti menggerakan ekor dan kakinya. Meskipun benak manusia secara anatomis hampir sama bentuknya dengan benak binatang, tetapi benak ini telah mengalami peningkatan fungsinya, sehingga benak manusia disebut sebagai otak.Otak telah mampu menerima pesan-pesan dari perasaan yang dibawa naik dari hati-nurani badan halus manusia dan juga mampu menyimpan nilai-nilai kualitatifnya. Selain dari pada itu, otak juga telah bisa menyimpan nilai-nilai kuantitatatif informasi bit materi sehingga mampu mengatur makhluk lainnya, entah makhluk itu bernyawa ataupun makhluk tidak bernyawa.Tapi hal ini kadang-kadang sering tidak disadari orang, sehingga otaknya masih tetap sebagai benak dan pancainderanya tidak mampu melihat kebenaran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar